Penggunaan Video Conference di Saat Krisis Virus Corona

Dengan adanya penutupan sementara kantor dan sekolah di seluruh dunia karena krisis virus corona, platform video conference kini semakin dibutuhkan. Namun, meningkatnya kekhawatiran akan keamanan di seluruh platform membuat banyak konsumen bertanya-tanya tentang alternatif teknologi.

Konsumen yang concern dengan masalah privacy perlu mempertimbangkan opsi video chat dengan hati-hati, kata Arvind Narayanan, seorang profesor ilmu komputer di Universitas Princeton yang sempat terang-terangan membuka masalah keamanan di platform Zoom.

“Ada kompromi antara keamanan dan kegunaan saat memilih produk konferensi video,” katanya. “Perusahaan dan sekolah perlu mempertimbangkan beberapa opsi perangkat lunak, mengonfigurasinya dengan aman, dan mengedukasi para penggunanya tentang risiko yang mungkin timbul.”

Charles Ragland, security engineer di Digital Shadows, mengatakan bahwa, salah satu kriteria penting yang harus dimiliki sebuah platform konferensi video adalah, panggilan dengan end-to-end encryption dan kebijakan perlindungan data. Perusahaan harus mematuhi kerangka kerja terkait privasi seperti GDPR, dan juga harus memberi tahu pengguna, data apa yang sedang dikumpulkan dan pihak ketiga mana saja yang dapat mengakses data itu.

video conference

Zoom

Aplikasi conference ini berkantor pusat di San Jose, California, dan bernilai $ 16 miliar sewaktu go public pada tahun 2019. Sejak adanya himbauan “tetap di rumah”, Zoom kian populer karena banyak digunakan sebagai sarana meeting online.

Kelebihan: Mudah digunakan – peserta dapat bergabung dengan tautan yang dibagikan secara publik dari mana saja, dan bergabung tidak perlu mengunduh perangkat lunak apa pun. Cara ini merupakan pilihan yang bagus jika Anda tidak membahas apa pun yang bersifat pribadi atau rahasia. Dalam rangka menjaga privasi dan keamanan, pihak Zoom baru-baru ini membuat opsi default dengan meminta kata sandi/password untuk bergabung dalam rapat.

Kekurangan: Zoom memiliki beberapa masalah privasi dan keamanan yang mencolok, yang dikenal dengan sebutan “Zoom bombings”, di mana peretas masuk ke ruang obrolan, berbicara kotor dan bahkan mengancam pengguna lainnya. Dengan kejadian tersebut, Zoom harus memperbaiki bug yang memungkinkan peretas mengambil alih pengguna Zoom yang menggunakan Mac. Pihak Zoom juga harus mengubah beberapa kebijakan setelah adanya laporan dari Motherboard tentang Zoom yang mengirim data dari pengguna aplikasi iOS ke Facebook untuk tujuan periklanan.

Nah, teknologi video conference memang sangat membatu saat krisis seperti sekarang ini. Kendati demikian, kita sebagai pengguna perlu bijak dalam memilih dan menggunakan platform video conference agar privasi kita tetap terjaga dari tangan-tangan jahil.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.